Jenderal Listyo Sigit Prabowo merusak curriculum vitae-nya (CV) sendiri, menutup bab kariernya dengan cara yang memalukan.
Catatan: LM Ishak Junaidy
Tidak gampang loh jadi kapolri. Banyak orang bisa mencapai bintang empat tapi tidak semua orang bisa menduduki kapolri. Kapolri itu rezeki-rezekian, bukan hal yang otomatis, lantaran bintang empat terus jadi kapolri? Tidak.
Jenjang karier Listyo Sigit terbilang mentereng, terutama setelah dekat dengan Jokowi. Dia menjadi kapolri sebelum waktunya. Melangkahi 5 angkatan Akpol. Menjabat kapolri di usia yang masih muda membuat masa pensiunnya panjang.
Listyo mencatatkan diri di papan rekor sebagai Kapolri terlama era Reformasi. Menjabat selama 5 tahun 8 bulan 4 hari (27 Januari 2021 – 1 Oktober 2026). Bonus kemuliaan yang luar biasa besar.
Saya yakin dia merakit kariernya dengan baik. Apa pun dia lakukan agar perjalanan kariernya mulus.
Listyo menuju pensiun dalam posisi berada di puncak tertinggi. Secara normatif pensiun Mei 2027, tapi secara politik dia diorder sampai 2029. Tinggal bertahan tidak bikin blunder dalam enam bulan saja lagi, maka dia pensiun secara husnul khotimah. Dambaan setiap orang. Pensiun dengan indah, bukan di bilik penjara.
Bahkan ketika terpaksa dicopot di tengah jalan pun dia masih mendapatkan kedudukan bergengsi, berkantor di Istana Negara, sebagai Kepala Staf Kepresidenan. Bukan gelandangan.
Namun inilah bagian yang lebih sukar dimengerti.
Di tangan Listyo ada teknologi penyadapan tingkat dewa seharga triliunan yang dibeli semasa Jokowi menjabat presiden. Dengan data hasil penyadapan di tangannya, Listyo seharusnya bisa menyetel masa depannya sendiri.
Dia punya data dan informasi akurat untuk memproyeksikan apa yang akan terjadi besok lusa di negeri ini, dalam berbagai pertarungan politik. Dengan demikian dia bisa memposisikan dirinya di jalur yang tepat dan membuatnya punya pikiran selangkah lebih maju dibanding siapa pun. Apa yang mesti dihindari dan apa yang harus ditempuh agar sedap di mata Jokowi dan disayang pula Prabowo.
Semua data dan informasi tersedia di mejanya. Dengan alat penyadap itu Listyo layaknya orang yang berasal dari masa depan. Seharusnya dia bisa mencegah apa yang akan menimpanya di kemudian hari, dengan cara mengubahnya sejak hari ini. Salah satunya, misalnya, dia bisa mencegah dirinya dicopot dari jabatan kapolri.
Namun tampaknya dia lebih percaya sihir Jokowi ketimbang tongkat mesin penyadap, karena memang selama ini banyak bukti Jokowi apa saja yang dia inginkan pasti tercapai. Jokowi membolak-balikkan negeri ini di telapak tangannya. Prabowo saja di hadapan Jokowi seperti kerbau dicucuk hidung. Dan Listyo juga mungkin meyakini benar skenario Solo The Gank bahwa Prabowo hanya dua tahun, setelah itu diganti Gibran.
Karena itu dia mengesampingkan informasi-informasi faktual yang diterimanya dari hasil penyadapan. Dia percaya Indonesia skenario yang akan terjadi tidak lain kecuali skenario Jokowi.
Dia begitu mengkultuskan Jokowi, membuatnya lupa punya pikiran sendiri. Sudah terlalu lama nasibnya bergantung dan terbiasa dipikirkan oleh Jokowi. Sehingga, ketika Jokowi sibuk memikirkan nasibnya sendiri, Listyo mengambang dan hap……lalu ditangkap pada 3 November 2026 atas tuduhan penyadapan presiden Prabowo.
Karier yang susah payah dia rakit sepanjang usianya, berakhir tragis. Masa tuanya dijalani di penjara. Merasakan juga memakai rompi orange sambil tangan terborgol, digelandang ke ruang tahanan sebagai pesakitan. Terkabullah doa dan hujah para aktivis dan politikus kritis yang mencecap penjara karena ditangkap secara semena-mena.
Masih untung tidak dihukum mati, karena perbuatannya dapat digolongkan makar, sedangkan makar ancamannya hukuman mati. Jika demikian, dia akan merasakan perasaan orang-orang yang pernah dieksekusi oleh tangannya yang berlumur darah. Kasus pengawal HRS KM-50, demonstran dan mahasiswa yang terbunuh karena aniaya, terlindas randis, atau menghilang tak tahu rimbanya.
Sungguh membagongkan, orang dari masa depan yang punya mesin waktu ke masa lalu, sanggup menata masa depan Jokowi membangun dinasti dan kejayaan, tapi tidak bisa mengubah masa depannya sendiri. (*)







































