Aura Pena- Dalam sepekan ini Indonesia ramai dengan berita penangkapan sabu-sabu skala besar. Diawali penangkapan satu kapal tanker penyelundup sabu dari Malaysia di perairan Kuala Tanjung Sumatera Utara, hingga pengungkapan sebuah pabrik sabu di Aceh yang dijalankan ahli kimia asal China. Operasi dijalankan oleh tim gabungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Bea Cukai), Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Bareskrim Polri.
Pabrik sabu itu merupakan laboratorium rahasia (clandestine lab) narkotika terbesar di Indonesia yang berlokasi di Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh digerebek pada 23 Oktober 2026, petugas menyita sabu cair (liquid methamphetamine) dan sabu kristal, seluruhnya sebanyak 1,2 ton. Laboratorium ini diketahui memproduksi sabu jenis terbaik yang dikenal sebagai blue ice.
Sementara dari kapal kapal tanker MT Global 168 yang ditangkap 20 Oktober 2026 petugas menyita barang bukti narkotika jenis ketamin seberat 1,16 ton yang dikemas dalam 58 karung. Sehingga dari kedua kasus ini total barang bukti yang diamankan sebanyak 2,36 ton sabu-sabu.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, clandestine lab di Pidie ini diduga kuat terafiliasi dengan jaringan narkoba internasional lintas negara yang melibatkan sindikat asal China, Malaysia, dan Indonesia. Ada dua ruko yang disulap menjadi pabrik sabu tersebut.
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dalam konferensi per Jumat (23/10/2026) menerangkan, dalam pengungkapan ini petugas mengamankan dua warga negara China berinisial LJ (45) dan XM (42) yang didatangkan khusus sebagai ahli kimia atau peracik utama sabu. Bersama keduanya dalam ruko tersebut, ikut diamankan sebagai tersangka berinisial F, MY, AK, dan AY.
“Kami akan mendalami forensik digital terhadap 6 telepon genggam yang ditemukan di TKP dan menerapkan pasal tindak pidana pencucian uang atau TPPU guna memiskinkan jaringan ini,” ujarnya.
Jenderal Suyudi juga menegaskan pengendali utama barang haram tersebut tengah diburu. Pihaknya akan berkoordinasi dengan China untuk mencari keberadaan pengendali utama.
“Tim saat ini masih memburu para daftar pencarian orang atau DPO meliputi pengatur lapangan berinisial Z, ES, J, BR, SS serta berkoordinasi dengan NC City Tiongkok untuk menangkap pengendali utama, yaitu Saudara LS,” jelasnya.
Dalam kasus penangkapan kapal MT Global 168, Kapolri Suyudi menyebut para tersangka juga merupakan sindikat peredaran narkotika internasional.
Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto membeberkan penindakan tegas ini melibatkan armada kapal patroli Bea Cukai BC 20006 dan KP Murai 4018 setelah petugas mendeteksi gelagat mencurigakan dari pergerakan kapal berbendera Mongolia tersebut. Kapal sedang melakukan transaksi di perairan timur laut Tanjung Siapi-Api, Sumatera Utara saat ditangkap.
Sebanyak 8 orang awak kapal yang berada di atas MT Global 168 berhasil diamankan tanpa perlawanan. Terdiri dari tujuh warga negara Indonesia (WNI) dan satu warga negara asing (WNA) asal Taiwan.
Jenderal Suyudi Ario Seto menyebut perusahaan Kapal MT Global 168 berada di Johor, Malaysia.
“Nah terkait dengan manajemen kapal, tim gabungan telah mengidentifikasi bahwa kapal ini terdaftar atas nama perusahaan pemilik atau registered owner yaitu Makmur Marine Petroleum,” kata Suyudi dalam konferensi pers, Jumat (23/10/2026). (*)
























